Rabu, 23 November 2016

Kata Makna Rasa

Tidak ada komentar :

Kami memang beda tapi kami ada
Kami unik dan pasti nyentrik
Kami lucu ga pernah mecucu
Kami gokil tapi bukan pake rasa kerdil
Kami ini sulit tapi ga bikin orang melilit
Kami memang bebas tapi hak orang ga pernah kami rampas

Praktek menguji dialektika rasa
Pasangan akibat tabula masa
Kronologi harapan tanpa janjian
Menata kasih dengan perjuangan

Menatap sebelah mata
Bukan berarti  bermakna
Dogma menjadi sekat tapi hampa
Rasionalitas menuntun hal buta

Duduk sama rasa
Diri sama masa
Berkarya maka ada
Hadir untuk mereka

Read More

Minggu, 20 November 2016

Kalam tak lagi kudus

Tidak ada komentar :

Hening melupakan orang yang berisik
Roh meninggalkan fisik
Setan enggan berbisik
Malaikat tidak lagi cantik

Rubuh gedung rubuh angka
Sejarah tak melewati masa
Pujangga hilang asa
Mimpi melupakan rasa

Anak kecil congkak amarah
Tetua peninggalan serapah
Tertawa dengan rasa marah
Jejak meninggalkan sampah

Ritual katanya
Tradisi ungkapnya
Saat kalam tak lagi Kudus
Datanglah waktu untuk mampus

Read More

Rabu, 22 Juni 2016

Bulan Malam Ini

Tidak ada komentar :

Tidaklah gampang menikmati keindahan bulan malam ini. Lapuknya asbes dan cat dinding yang mengelupaspun harus dilalui mata menuju keindahan bulan itu.

Mencapai keindahan hidup banyak hal-hal yang harus dilewati, nikmati saja.

Jangan lupa ngopi sebelum tidur :)

Read More

Senja dan Kopi

Tidak ada komentar :

Kala itu, saat senja lantang menghambat kedatangan malam.
Saat itulah rasa kopi semakin terasa pahit, itulah proses kenikmatan.

Malam akan tetap datang

Read More

Jumat, 10 Juni 2016

Beda, Tuhan dan Cinta

Tidak ada komentar :

Kau tahu aku beda
Aku tahu kamu beda
Nama kita berbeda
Kelamin kita berbeda
Suku kita berbeda
Tuhan kita berbeda?

Oh.....
Tuhan, Nama yang misteri dengan keberadaan yang nyata
Dimana Dia?
Apakah mendengar seluruh doa-doa panjang manusia?

Oh.....
Tuhan, semua berebut untuk dekat padaMu
Semua berasa memilikimu
Bukankah Kau yang memiliki?
Kau kan Sang Pemilik

Oh.....
Tuhan, terkadang namaMu dibuat menjadi jahat
Mereka melindungiMu dengan kegelapan
Lemahkah diriMu?

Oh.....
Perbedaan aku dan kau hanyalah ego
Seperti ikan yang tak mau berenang di daratan

Oh.....
Tuhan, menuhankan ego lupa akan cinta
Cinta? Iya, Dia yang juga disebut Sang Cinta

Oh.....
Tuhan, ternyata tidak ada yang beda
Beda ada karena ketiadaan cinta

Terima Kasih Sang Cinta

Read More

Kamis, 10 Maret 2016

Belajar Dari Dua Perempuan.........

Tidak ada komentar :

Tidak tahu seberapa penting apa yang mereka  bawa?
Tidak tahu seberapa berat bawaan mereka?

Tidak tahu seberapa jauh bawaan itu mereka bawa?
Tidak tahu sebenarnya mereka itu siapa?

Lalu lalang kendaraan menghiasi mata saat menikmati waktu senggang di teriknya matahari siang. Duduk di depan sebuah ruang pertemuan warga, tepatnya RW 03 Kelurahan Banyu Urip.
Kebisingan suara kendaraan ini menyiratkan kebingungan, panasnya menusuk menembus kulit panasnya, apakah ini nyaman atau tidak? Tetap menikmatinya saja.

Seolah sedang menghitung kendaraan yang meramaikan jalanan. Bola mata ini menari-nari di singgasana kelopak mata seolah sedang mencari sesuatu, sesuatu yang sebenarnya belum tahu mau mencari apa.  Tidak butuh waktu yang lama. Tarian bola mata ini mendadak berhenti, berhenti sementara akibat godaan oleh sebuah peristiwa yang menarik. 

Inilah penampakan kedua perempuan yang sedang membawa barang di atas kepalanya.
Mata ini tertuju kepada seorang perempuan yang melintas dengan santai melewatiku. Melenggak lenggok bak model yang sedang memamerkan pakaian terbaru seorang desainer. Lirikan mata seolah tidak bergerak saat barang berukuran tidak kecil berada di atas kepala ibu/perempuan ini.
Tepuk tangan meriah terjadi ketika para model di "catwalk" selesai memamerkan busana. Begitu pula dengan hati ini, rasa salut terwujud dalam tepukan di hati. Hati yang salut hingga bergolak mengeluarkan sebuah pernyataan kagum "ternyata perempuan tangguh masih ada di kota besar".

Perempuan itupun berlalu tetapi masih meninggalkan bekas kagum kepadanya. Rasa kagumku belum hilang, kembali mata ini tertuju kepada seorang perempuan yang lain lagi. Perempuan paruh baya sedang berjalan bak model terjadi lagi. Wauuuu, bisikku dalam hati. Perempuan kedua ini juga membawa barang bawaan yang diletakkan di atas kepalanya. Kagum pertama belum sirna, kagum ini semakin tumbuh berkembang oleh kemuculan perempuan kedua dengan melakukan hal yang sama. Sungguh peristiwa yang jarang terjadi di depan mata ketika berada di kota besar ini.

Masihkah kita mengira kalau perempuan itu lemah? melihat kedua perempuan ini adalah jawaban yang membuktikkan bahwa perempuan juga bisa kuat dan tangguh seperti laki-laki. Sayangnya, kita tidak membahas perbedaan tentang keberadaan gender (status kelamin). Kedua perempuan ini bisa mewakilkan sebuah cerita perjuangan secara lebih umum.

Kedua perempuan ini seolah bercerita tentang bagaimana menikmati perjuangan dalam hidup. Mereka berjuang dalam hidup dengan gaya mereka masing-masing. Raut wajah menyerah tidak mereka tunjukan. Mereka penuh percaya diri tanpa menghiraukan pendapat orang lain saat melihat mereka. Kejadian ini menjadi sebuah pembelajaran menarik untuk dipelajari dalam hidup. Berjuang dan percaya diri adalah modal saat menghadapi segala persoalan di kehidupan sehari-hari.

Semoga kita selalu menjalani hidup ini dengan penuh optimis dan percaya diri. Banyak hal-hal yang selalu bisa kita nikmati dengan gaya masing-masing. Menyerah dan putus asa bukanlah sebuah jawaban ketika banyak permasalahan yang sering menghiasi hidup. Tetap berjuang dalam hidup seperti pelajaran yang didapat dari kedua perempuan ini.

Kenikmatan yang mana yang sering kita lupa untuk dinikmati..............................................


Read More

Selasa, 01 Maret 2016

Nyanyian Malam

Tidak ada komentar :
Bertengger di atas tanah untuk menikmati sejuknya gelap
Beradu tanpa mesra bersama jiwa-jiwa yang terkekang
Kegelapan menyelimuti hati yang tanpa cahaya
Kemesraan hanyalah pajangan dinding kehidupan

Harap berharap tanpa harapan yang berharap
Kenangan bukanlah sebuah masa lalu
Berharap gelap tetap menjadi gelap
Dinding kehidupan tanpa kenangan yang mesra

Hujan membawa selaksa pasukan basah
Tanah berlindung dengan menamengkan manusia
Pasukan basah selalu berharap kelak menjadi kering
Tameng kemanusiaan kini tanpa harapan

Bisikan binatang besi menusuk telinga
Hantaman perubahan selalu membusungkan dada
Peristiwa hanyalah sebuah lintasan melewati indra
Kesombongan bernyanyi dengan angkuhnya

Malam tetaplah malam
Malam berteriak siang, tetaplah malam
Malam meminjam cahaya untuk rupa, tetaplah malam
Malam bernyanyi malam, tetaplah malam

Read More