Kamis, 02 Januari 2014
Label:
Indonesia
,
Pancasila
Garuda pancasila akulah pendukungmu
Pancasila Menurutku
Diposting oleh
Unknown
di
06.34
Garuda pancasila akulah pendukungmu
Patriot proklamasi sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Lagu Garuda Pancasila tiba-tiba bergaung di antara batas kesadaranku di gemerlap sisa pesta awal tahun ini. Ayo maju, Ayo maju... Maju kemana? Aih, sepertinya itu suara garuda-garuda mudamu hingga Sang Merah Putih pun setia berayun, segan menunggu pada setengah tiangnya.
Indonesia atau Nusantara?
Kata nusantara lebih dulu ada dibanding Indonesia. Bahasa sansekerta yang berarti daerah/pulau (nusa) dan lainnya (antara). Nusantara sendiri merujuk pada daerah lain yang berafiliasi langsung dengan Kerajaan Majapahit pada masa jayanya. Hingga sekarang kata Nusantara bergaung dengan nama Mahapatih Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya.
Seandainya,
kita kembali ke masa dimana pemuda-pemuda yang menjadi pencetus negara Indonesia dahulu berjuang. Menjadi siapa kah dirimu, aku, kita?
Menilik kembali proses lahirnya negara Indonesia, teringat satu tokoh proklamator Indonesia. Bung Karno. Pidato Bung Karno mengenai konsepsi awal Pancasila dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 menyebut Pancasila sebagai landasan negara Indonesia merdeka.
Pancasila. Panca berarti lima dan sila berarti asas atau prinsip. Pancasila merupakan ideologi yang menjadi dasar bagi negara Indonesia.
Ketuhanan Yang Maha Esa. Ke-an awalan dan akhiran yang bermakna membentuk kata benda atau sifat/ keadaan yang dinyatakan dalam kata dasarnya. Konfiks ke-an dalam kata ketuhanan ini berarti proses memiliki Tuhan. Bertuhan dalam kepercayaan atau keyakinan terhadap zat yang tak terdefinisi jamaknya tetapi tunggal.
Kesadaran akan sesuatu yang jauh lebih berkuasa terhadap manusia dan dunia ini muncul dalam diri. Secara kolektif kesadaran bertuhan ini tumbuh dan berkembang pada tiap nusa sesuai dengan coraknya masing-masing. Saat ini kita mengenal beberapa diantaranya seperti Parmalim di Sumatera, Kejawen di Jawa, Kaharingan di Kalimantan, dan Tolottang di Sulawesi.
Interaksi antara individu yang homogen tersebut menimbulkan suatu sistem. Secara sosial, sistem ini bertujuan untuk memanusiakan manusia. Sehingga dari kebersinambungan sistem ini timbul lah peradaban yang berkeadilan. Muncullah sila ke-2, kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dahulu Kerajaan dengan pemimpinnya bergelar Raja merupakan sistem bermasyarakat yang beradab dan berkeadilan. Tiap Nusa memiliki sistem pemerintahannya sendiri dengan latar belakang uniknya masing-masing.
Seiring dengan berjalannya waktu, perbedaan-perbedaan antar suku dan budayanya masing-masing menimbulkan dialog yang konstruktif bagi berdirinya negara Indonesia. Satu hal yang menyatukan berbagai macam suku, budaya, agama, ras, dan sebagainya ini adalah sejarah penjajahan oleh bangsa asing di tanah mereka.
Sila Persatuan Indonesia merupakan ikrar persatuan dari berbagai macam latar belakang Nusa. Tidak ada suku Sumatera, tidak ada suku Jawa, tidak ada suku Sulawesi, tidak ada suku Papua. Semuanya melebur menjadi satu bangsa Indonesia.
Satu bangsa, satu negara. Semuanya menjadi sama statusnya, yaitu warga negara Indonesia. Negara Indonesia ini harus memiliki pemimpin yang hikmat dan bijaksana. Kembali pada nilai-nilai keberagaman dan kemanusiaan, pemimpin harus dipilih berdasarkan musyawarah. Menurut KBBI, musyawarah adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan; perembukan.
Tapi, coba bayangkan jika semua warga negara Indonesia berembuk untuk mencari satu pemimpin? Karena itu dibentuklah sistem perwakilan dari tiap daerah. Nah, Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah representasi yang tepat dari pengertian sila ke-4 Pancasila. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Lalu, menjadi seperti apa negara Indonesia yang kaya dengan perbedaan dan memiliki pemimpin yang bijaksana atas rakyatnya yang beradab? Pada sila ke-5 inilah visi Indonesia tertuang. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Karena semua rakyat Indonesia sama, keadilan harus ditegakkan. Keadilan sosial disini harus dimaknai sebagai keadilan dalam berkehidupan tiap-tiap manusia Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Sama rata sama rasa, tanpa terkecuali.
Ah, cukup lah dulu berangan-angannya. Semua pengertian ini semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Siapa aku, kamu, kita dan mereka adalah urusanku, urusanmu, urusan kita dan urusan mereka. Yang penting tujuan kita masih sama, Indonesia jaya.
Menilik kembali proses lahirnya negara Indonesia, teringat satu tokoh proklamator Indonesia. Bung Karno. Pidato Bung Karno mengenai konsepsi awal Pancasila dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 menyebut Pancasila sebagai landasan negara Indonesia merdeka.
Pancasila. Panca berarti lima dan sila berarti asas atau prinsip. Pancasila merupakan ideologi yang menjadi dasar bagi negara Indonesia.
Ketuhanan Yang Maha Esa. Ke-an awalan dan akhiran yang bermakna membentuk kata benda atau sifat/ keadaan yang dinyatakan dalam kata dasarnya. Konfiks ke-an dalam kata ketuhanan ini berarti proses memiliki Tuhan. Bertuhan dalam kepercayaan atau keyakinan terhadap zat yang tak terdefinisi jamaknya tetapi tunggal.
Kesadaran akan sesuatu yang jauh lebih berkuasa terhadap manusia dan dunia ini muncul dalam diri. Secara kolektif kesadaran bertuhan ini tumbuh dan berkembang pada tiap nusa sesuai dengan coraknya masing-masing. Saat ini kita mengenal beberapa diantaranya seperti Parmalim di Sumatera, Kejawen di Jawa, Kaharingan di Kalimantan, dan Tolottang di Sulawesi.
Interaksi antara individu yang homogen tersebut menimbulkan suatu sistem. Secara sosial, sistem ini bertujuan untuk memanusiakan manusia. Sehingga dari kebersinambungan sistem ini timbul lah peradaban yang berkeadilan. Muncullah sila ke-2, kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dahulu Kerajaan dengan pemimpinnya bergelar Raja merupakan sistem bermasyarakat yang beradab dan berkeadilan. Tiap Nusa memiliki sistem pemerintahannya sendiri dengan latar belakang uniknya masing-masing.
Seiring dengan berjalannya waktu, perbedaan-perbedaan antar suku dan budayanya masing-masing menimbulkan dialog yang konstruktif bagi berdirinya negara Indonesia. Satu hal yang menyatukan berbagai macam suku, budaya, agama, ras, dan sebagainya ini adalah sejarah penjajahan oleh bangsa asing di tanah mereka.
Sila Persatuan Indonesia merupakan ikrar persatuan dari berbagai macam latar belakang Nusa. Tidak ada suku Sumatera, tidak ada suku Jawa, tidak ada suku Sulawesi, tidak ada suku Papua. Semuanya melebur menjadi satu bangsa Indonesia.
Satu bangsa, satu negara. Semuanya menjadi sama statusnya, yaitu warga negara Indonesia. Negara Indonesia ini harus memiliki pemimpin yang hikmat dan bijaksana. Kembali pada nilai-nilai keberagaman dan kemanusiaan, pemimpin harus dipilih berdasarkan musyawarah. Menurut KBBI, musyawarah adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan; perembukan.
Tapi, coba bayangkan jika semua warga negara Indonesia berembuk untuk mencari satu pemimpin? Karena itu dibentuklah sistem perwakilan dari tiap daerah. Nah, Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah representasi yang tepat dari pengertian sila ke-4 Pancasila. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Lalu, menjadi seperti apa negara Indonesia yang kaya dengan perbedaan dan memiliki pemimpin yang bijaksana atas rakyatnya yang beradab? Pada sila ke-5 inilah visi Indonesia tertuang. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Karena semua rakyat Indonesia sama, keadilan harus ditegakkan. Keadilan sosial disini harus dimaknai sebagai keadilan dalam berkehidupan tiap-tiap manusia Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Sama rata sama rasa, tanpa terkecuali.
Ah, cukup lah dulu berangan-angannya. Semua pengertian ini semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Siapa aku, kamu, kita dan mereka adalah urusanku, urusanmu, urusan kita dan urusan mereka. Yang penting tujuan kita masih sama, Indonesia jaya.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar