Senin, 07 Oktober 2013
Perempuan Vampire
Diposting oleh
Unknown
di
01.19
Kisah tentang proses pendekatan dengan seorang perempuan. Kita sebut saja perempuan ini dengan inisial A. Perkenalan kami dimulai karena seorang temanku perempuan yang biasanya dipanggil wiwit.
Pertama kali aku melihat si A saat makan di kantin pusat kampus kami. Tatapan ini tak henti tertuju kepada sosoknya, yang saat itu menurut begitu cantik. Pertemuan pertama itu membuat terkesan yang mendalam bagiku. Rasa penasaran ingin tahu siapakah gerangan perempun itu bergelora di hati.
Pertemuan kembali lagi terjadi di kantin pusat kampus kami. Pertemuan kali ini sepertinya ada sebuah kesempatan untuk berkenalan dengannya. Saat itu dia sedang makan bersama temanku yang bernama wiwit tadi.
Kuberanikan langkah untuk mendekati meja tempat dia makan. Awalan yang gugup saat mau mendudukkan pantat ini di depan perempuan itu. Sedikit basa basi dengan si wiwit, sembari mencoba membuka peluang untuk perkenalan dengan perempuan itu.
Akhirnya tiba lah momen perkenalan itu, mendadak hari terasa sangat panas. Keringatku bercucuran karena grogi saat bersalaman dengan perempuan itu. Dengan gengsiku, kuhilangkan rasa gugup itu dengan mengeluarkan kharisma kejantanan.
Setelah momen perkenalan itu, pertemuan terjadi kembali. Kali ini aku memberanikan diri untuk meminta no handphone dia. Dengan senang hati perempuan itu memberikan no handphonenya.
Rasa gugup pun tetap ada disaat jari-jari ini hendak mengetikkan kata lewat pesan singkat elektronik atau sms. Kucoba untuk mengumpulkan keberanian menge-sms dirinya. Keberanian itu terkumpul tepat pukul 7 malam. "hai, lagi ngapain", ini sms pertama seingatku kepadanya. Membutuhkan waktu yang lama untuk merangkai kata-kata itu. Beberapa menit setelah mengirim sms, muncul pertanyaan bertubi-tubi dalam hati, "kok belum dibalas ya sms ku?".
Setelah hampir 30 menit, deringan handphone menandakan ada sms masuk. Dengan sergapnya tangan ini merenggut handphone. Membaca sms handphone ternyata sms dari si dia. Sms aja belum dibaca, rasa ini seolah bergelora mau terbakar panas akan apa sih balasan isi smsnya. Membaca balasan darinya bertuliskan "ini siapa?", rasa bergelora itu seolah mendadak kabur. Secara sadar aku lupa mencantumkan namaku di akhir sms.
Kemudian aku membalas smsnya, "maaf, ini Denny yang ketemu tadi siang". Setelah menekan tombol kirim, kembali aku menunggu penuh harapan akan balasan sms darinya.
Singkat cerita, malam itu kami pun saling sms cukup panjang. Hari berikutnya juga tetap terjadi adegan sms-menge-sms antara aku dan dia.
Setelah beberapa hari pendekatan lewat media elektronik, aku coba memberanikan diri untuk menemuinya dalam hal mengajak jalan lah gitu.
Oh ya, pada saat itu aku juga baru tahu kalau dia sudah punya pacar. Tapi suasana hubungannya dengan pacar sedang terjadi percekcokkan. Satu sisi aku senang dan satu sisi lagi punya pikiran aneh, kok tega sih aku melakukan pendekatan kepada perempuan yang berpacaran.
Tanpa pikir-pikir panjang, rasa ingin selalu dekat kepadanya semakin bertumbuh. Oleh karena itu, aku merencanakan untuk bertemu dengannya. Karena hubungan lewar Handphone sudah baik, sudah cukup banyak tahu informasi tentang dirinya.
Pertemuan yang kurencanakan bukan hal yang gampang. Untuk beberapa kali ajakan selalu memiliki alasan untuk tidak bisa.
Pada ajakan kesekian kalinya, barulah dia mau menerima ajakanku untuk keluar. Dengan meminjam motor teman, kutancap gas menuju kosannya. Jok motor motor yang kupinjam cukup tinggi dan licin, sehingga tanpa inginku posisi duduknya saat kubonceng cukup rapat dengan tubuhku.
Kuajak dia makan di rumah makan pinggir jalan. Setibanya di rumah makan, dia memilih tidak makan dengan alasan masih kenyang. Walaupun demikian, obrolan yang terjadi diantara kami cukup seru, tawanya yang lepas beberapa kali menemani makanku. Hampir satu jam kami menikmati obrolan dan makanku sudah selesai. Selesainya itu, aku langsung mengantarnya pulang kekosan, kedekatan kami malam ini sedikit aneh, tanpa terasa hubungan ini seolah akan terjadi atau niatku untuk dekat kepadanya akan terwujud.
Setibanya di kosannya, aku tidak langsung pulang. Kami masih mengobrol di depan kosannya. Canda tawa menghiasi obrolan kami. Tanpa sadar waktu menunjukkan larut malam. Sudah saatnya aku pulang, karena merasa tidak enak sama warga.
Sebelum langkah kaki ini beranjak ke motor untuk pulang. Aku beranikan untuk mencium keningnya sebagai tanda aku ingin dekat kepadanya. Tanpa perlawanan melainkan senyuman hangat yang terlempar dari wajahnya walapun aku harus agak menjinjit untuk mencium keningnya.
Beberapa saat setelah pulang dari kosannya, perasaan aneh muncul.
Kenapa sms-sms ku kok tidak dibalasnya. Muncul rasa curiga, apakah aku ada salah? Atau bagaiamana? Aku juga menjadi bingung. Mendadak berubah 180 derajat setelah pertemuan itu.
Beberapa jam kemudian dia membalas sms dan berkata "mas, hubungan kita sampai disini saja".
Serasa bumu ini terbelah, ada apa kok dia tiba-tiba menuliskan itu.
Hari berganti hari untuk mencari tahu alasanny kenapa, juga masih belum terjawab. Berusaha untuk menemuinya juga sia-sia. Hasil nol untuk mengetahui maksudnya.
Seminggu telah berlalu, tanpa disengaja aku ketemu dengan si wiwit temannya dan temanku juga.
Si wiwit inilah yang akhirnya memberitahu alasan kenapa dia si A menjadi berubah.
Setelah mendengar penjelasan singkat si wiwit, sungguh kaget aku mendengarnya. Ternyata si A menjauhiku setelah malam aku mencium keningnya karena dia memergoki kalung salib yang aku pakai.
Rasa aneh!!! Kok dia menjauh setelah melihat kalung salib? Muncul pertanyaan, apakah dia keturunan vampire kah? Sehingga sangat takut dan menjauh dariku.
Ada yang salah dengan kalung salibku? Menurutku tidak, paling dia aja sih yang terlalu fanatis atau apalah itu namanya.
Itu aja lah dulu ya kisah si perempuan vampire...
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar